Air Mata

Air Mata

Oleh : Mahyudin Purwanto

Republika : Senin, 08 Nopember 2004

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ada seorang ustadz melihat seorang
anak berwudhu di tepi sungai sambil menangis. Ia bertanya, ”Nak,
mengapa engkau menangis?”

Anak tersebut menjawab, ”Saya membaca ayat Alquran, ‘Hai orang-orang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’
(At-Tahrim:6).

Saya khawatir, jangan-jangan Allah memasukkan saya ke dalam neraka.”

Ustadz menjelaskan, ”Wahai anak kecil, kamu tidak akan disiksa, karena
kamu belum baligh, jangan merasa takut, kamu tidak berhak memasuki
neraka.”

Anak tersebut menjawab, ”Wahai Ustadz, engkau adalah orang yang pandai,
tidakkah Ustadz tahu bahwa seseorang yang menyalakan api untuk satu
keperluannya, memulai dengan kayu-kayu yang kecil baru kemudian yang
besar?”

Rasulullah SAW bersada, ”Tiada pelupuk mata yang tergenangi dengan air
mata melainkan pasti diharamkan jasadnya dari neraka, dan tiada air mata
yang mengalir pada pipi melainkan akan dihapuskan daripadanya suatu
kotoran dan kehinaan, dan apabila ada seseorang di antara umat

yang menangis niscaya mereka akan dirahmati. Tiada suatu amal pun
kecuali bernilai seperti kadar dan timbangannya, kecuali tetesan air
mata. Sesungguhnya air mata itu dapat memadamkan samudera api neraka.”

Tangisan orang-orang saleh terlahir dari khouf (rasa takut). Karena,
dengan rasa takut inilah, perbuatan-perbuatan dosa dapat dilenyapkan.
Rasulullah menjelaskan, apabila badan seorang hamba gemetar karena takut
kepada Allah, maka jatuhlah segala kesalahannya sebagaimana jatuhnya
dedaunan dari pohonnya di musim kemarau.

Rasulullah bersabda, ada dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api
neraka yaitu mata yang menangis karena Allah di pertengahan malam dan
mata yang terbangun berjaga di jalan jihad fisabilillah. Dan, di antara
yang mendapat perlindungan di hari kiamat adalah seseorang yang
berdzikir kepada Allah dalam kesepian lalu berlinangan air matanya.

Allah Rabbul Izzati berfirman di dalam hadis qudsi, ”Demi
keperkasaan-Ku, tak akan menyatu dua rasa takut pada diri hamba-Ku dan
tidak aku satukan dua rasa aman pada dirinya. Apabila dia merasa aman

di dunia, niscaya akan Kami buat takut di hari kiamat; dan apabila dia
takut kepada-Ku di dunia, maka akan Kami buat aman dia di hari kiamat.

Maka, basuhlah empat hal dengan empat macam. Yaitu, wajahmu dengan
tetesan air matamu, gigi-gigimu dengan bedzikir menyebut Tuhanmu, hatimu
dengan rasa takut kepada Tuhanmu, dan dosa-dosamu dengan taubat. (Abu
Darda kepada para ikhwan di Ka’bah).

Takut kepada Allah akan menumbuhkan jiwa itsar (sifat yang selalu
mengutamakan kepentingan saudara seiman daripada kepentingannya
sendiri), iffah (kemampuan untuk menjaga diri), dan wara (sikap
berhati-hati).

Leave a Reply